Showing posts with label asuransi terbaik. Show all posts
Showing posts with label asuransi terbaik. Show all posts
Insurance start-up Oscar seeks to shake up healthcare through its app

Insurance start-up Oscar seeks to shake up healthcare through its app

Image result for insurance
Imagine you can't sleep, so you grab your cellphone, open an app, type in "insomnia" and browse a list of specialists. Then you make an appointment with a doctor who the app says has a record of not just being the cheapest but also treating patients of your age and gender.
Maybe then you fall back asleep.
Welcome to Oscar Insurance Corp., a Silicon Valley-backed start-up promising big changes to the cumbersome healthcare industry through its sleek mobile app.
The New York-based insurer, a new player in the Southern California market, plans to offer insurance next month in the individual market on the Covered California exchange, where the four largest companies control 94% of the individual market.
"Innovation, in terms of consumer friendliness, is so far behind," said Glenn Melnick, a healthcare economist and professor at USC. "I am hoping they pull it off."
The company's focus centers around the Internet and mobile applications. From a computer or the smartphone app, members can type in what they feel is wrong, such as "I can't stop wheezing," which would prompt several conditions to pop up, including asthma.
Another click and appointment options — a free doctor's call or a visit to a primary care physician or specialist — are splashed on the screen with estimated costs. A consumer could expect to shell out a total of $200 in co-pays and typical prescriptions or tests for a visit to a specialist.
Choosing a specific doctor lets you know how often that physician treats patients of your age and gender, as well as the estimated costs you would incur.
Oscar's app or website will also point out which appointment option has proved the most effective, which in the case of asthma is the plan's unlimited free telephone consultations with a doctor who can prescribe medicine on the call.
"Pull up the Oscar mobile app, push a button and a doctor will call you in 10 minutes — no co-pay, no cost," is how Chief Executive Mario Schlosser puts it.
Other features include a free fitness tracker that enables members to earn Amazon gift cards for hitting daily exercise goals. Insurers, including Anthem and Kaiser, offer similar online services, but experts said Oscar's are more seamless and comprehensive.
"I haven't seen anything from an insurer that combines them into one consumer-friendly tool," said Larry Levitt, senior vice president at the nonprofit Kaiser Family Foundation.
Oscar was founded in 2012 by three young Harvard Business School graduates with backgrounds in the tech industry — Schlosser, Josh Kushner and Kevin
Nazemi. At the moment it is operating only in New York state and New Jersey, where combined it has about 40,000 members.
Like many start-ups, the company is losing money — $27.5 million last year — but has raised $350 million, including from a Google investment fund and Silicon Valley venture capitalist Peter Thiel. Schlosser projects Oscar, valued at $1.75 billion based on its private investments, will become profitable in certain markets in 2017 and break even in three to four years as it expands.
In California, the company plans to roll out a marketing blitz Monday. It will first offer plans for singles and families on the individual market in western Los Angeles and Orange counties and will begin signing up members for next year when open enrollment starts Nov. 1. Oscar offers an Exclusive Provider Organization plan, or EPO — a hybrid of the HMO and PPO models. Consumers, for example, receive no coverage out of network, but unlike an HMO they don't need a primary care physician or a referral to see a specialist.
The insurer's Silver plan in west L.A. County — a mid-priced option — carries a $298 monthly premium for a 40-year-old who's ineligible for subsidies. That puts Oscar in the middle of the pack on Covered California, the state insurance marketplace created by the federal Affordable Care Act.
The plan has a deductible of $2,250 and a co-pay of $45 for primary care visits and $70 for specialists.
Providence Health & Services and UCLA Health have signed on to Oscar's network, giving it 16 area hospitals and more than 5,000 doctors.
"We are trying to meet the needs of patients wherever they are," said Brandon Koretz, interim CEO of the UCLA Faculty Practice Group.
Gerald Kominski, director of the UCLA Center for Health Policy Research, praised Oscar's potential to reduce premiums by increasing competition. But he calls Oscar simply "hype" until the insurer can prove itself in California.
"A year from now we will know," he said.
A preview can be seen in New York, where Oscar has offered coverage since 2014. Oscar ranked second out of 12 New York PPOs and EPOs in a quality rating by the New York Department of Financial Services.
Sherry Glied, dean of New York University's Robert F. Wagner Graduate School of Public Service, said that by building its systems from scratch, Oscar has a more "holistic and integrated" online interface than established players. The insurer now accounts for 5% of New York state's individual exchange market.
"Market share is going up and premiums are not going crazy," she said.
For next year, the state approved a 4.54% premium increase for Oscar, compared with an average hike of 7.1% in the individual market.
Jennifer Iannolo, a 43-year-old Oscar member in New York, said she appreciates the ease with which the app accesses doctors. She also likes how it shows how much she's earned in Amazon gift cards from hitting her walking goals.
"I have never had such an easy time with insurance in my life," said Iannolo, who was referred by the insurer to The Times for comment.
Twitter: @khouriandrew
Times staff writer Chad Terhune contributed to this report

Pentingnya Asuransi Jiwa untuk Keluarga



PADA edisi kali ini saya akan menyajikan kepada Anda tentang hasil survei terkini perihal urgensi berasuransi jiwa di Amerika Serikat (AS).

Fakta ini penting untuk kita simak karena dampak krisis global serta-merta memunculkan kesadaran masyarakat di negara itu untuk berasuransi jiwa. Urgensi tersebut seyogianya bisa menjadi referensi bagi masyarakat kita untuk segera memperlengkapi diri dan keluarga dengan asuransi jiwa. Survei berskala nasional yang diadakan di AS pada 8-15 Juli 2010 terhadap 1.004 warga masyarakat baru saja dirilis hasilnya minggu lalu.

Secara statistik, hasil survei menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat di negeri itu terhadap proteksi asuransi dan keamanan keuangan dalam konteks perencanaan keuangan mengalami pertumbuhan yang pesat.

Ini menunjukkan terjadinya peningkatan kesadaran di kalangan warga AS terhadap risiko keuangan yang akan mereka alami terkait dengan dampak negatif akibat hantaman resesi ekonomi global. Gelombang krisis keuangan global pada 2007-2008 telah menghantam denyut perekonomian dunia, termasuk di dalamnya eksistensi pasar saham, industri keuangan, dunia usaha, dan dinamika kehidupan masyarakat.

Sadar Berasuransi Jiwa

Survei menunjukkan, hampir 46 persen penduduk AS yang berusia di atas 30 tahun mengatakan bahwa saat ini mereka peduli dalam hal pengelolaan risiko keuangan ketimbang sebelum terjadinya krisis keuangan global. Ketika mereka ditanya tentang langkah apa yang akan mereka lakukan pasca terjadinya krisis keuangan, 14 persen di antara mereka menyatakan sudah berkonsultasi dengan ahli perencana keuangan jangka panjang.

Survei juga menunjukkan hampir seperempat atau 22 persen dari penduduk AS yang berusia 30 tahun ke atas baru melakukan perencanaan keuangan jangka panjang untuk pertama kalinya. Artinya, mereka belum pernah melakukan perencanaan keuangan tersebut. Dalam memilih perusahaan lembaga keuangan seperti asuransi jiwa, 14 persen di antara mereka memilih perusahaan yang bereputasi dan memiliki kekuatan keuangan yang solid.

Krisis keuangan global tampaknya mengajarkan kepada warga AS tentang pentingnya melakukan perencanaan keuangan untuk mengatasi berbagai ketidakpastian dan risiko yang mengancam mereka di masa depan. Krisis ekonomi terdahulu telah menghancurkan ekonomi banyak keluarga sehingga mereka jatuh miskin!

Harta dan kekayaan mereka tiba-tiba berkurang nilainya akibat kontraksi pasar saham dan keuangan! Harapan mereka untuk menikmati kehidupan yang berkualitas menjadi berantakan! Bangkrutnya berbagai perusahaan membuat banyak orang yang bekerja di dalamnya tidak memiliki kepastian di masa depan.

Serangkaian dampak buruk tersebut telah membuka hati warga AS untuk memperlengkapi diri dengan produk asuransi jiwa. Bagaimana dengan kesadaran masyarakat kita dalam berasuransi jiwa? Berdasarkan data yang dikumpulkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah manfaat klaim meninggal dunia yang telah dibayarkan oleh perusahaan selama kuartal I-2010 adalah Rp762,8 miliar. Jumlah ini menunjukkan sisi penting peran asuransi dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat di negara kita.


Santunan klaim meninggal dunia tentu sangat dibutuhkan oleh keluarga yang ditinggalkan oleh tertanggung. Dalam hal ini manfaat polis asuransi jiwa bisa mengakomodasi ragam kebutuhan keuangan keluarga, misalnya untuk biaya pendidikan anak-anak, pelunasan utang, dan biaya kehidupan keluarga dengan standar yang memadai.

Salah satu alasan penting mengapa seseorang harus membeli polis asuransi jiwa adalah bahwa yang bersangkutan mencintai pasangan hidup dan anak-anak tercinta.

Ketika polis asuransi jiwa ada dalam genggamannya, ada kepastian bahwa pasangan hidup dan anak-anak mendapatkan perlindungan dalam hal kebutuhan keuangan manakala yang bersangkutan mengalami musibah/kemalangan secara tak terduga. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari polis asuransi jiwa, antara lain pengganti penghasilan (income replacement), mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak (education funding), persiapan dana untuk perawatan kesehatan dan kecelakaan (health insurance), menabung dan mengakumulasi aset (saving & asset accumulation), serta meningkatkan dan mengembangkan aset (asset enhancement).

Bagaimana dengan Anda? Ketika Anda belum memiliki polis asuransi jiwa, ada beberapa pertanyaan yang seyogianya menjadi perenungan. Apakah yang terjadi pada keluarga bila suatu kemalangan menimpa Anda? Apakah Anda ingin agar keluarga tercinta bisa melanjutkan kehidupan dengan baik sesuai dengan kualitas yang sudah Anda sediakan sebelum Anda meninggalkan mereka? Apakah anak-anak Anda bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi sesuai cita-cita mereka?

Seandainya nanti Anda memasuki usia pensiun, apakah Anda tidak ingin pasangan Anda nantinya tetap menerima penghasilan bulanan? Atau, bila Anda adalah seorang pengusaha, apakah Anda tidak ingin mitra kerja atau penerus usaha Anda nantinya bisa melanjutkan denyut bisnis dengan baik meski Anda tidak lagi bersama mereka? Perenungan tersebut seyogianya bisa memunculkan kesadaran Anda untuk memperlengkapi diri dengan asuransi jiwa sesuai dengan kebutuhan Anda.

Asuransi jiwa berperan dalam membantu dan menopang keuangan keluarga Anda manakala suatu kemalangan/ tragedi terjadi dalam kehidupan Anda. Sederhananya, asuransi jiwa membantu Anda dalam memastikan kelangsungan hidup keluarga dengan dukungan finansial yang memadai. Keputusan Anda dalam berasuransi merupakan bukti riil kasih dan perhatian Anda kepada pasangan hidup dan anak-anak tercinta. Selamat berasuransi jiwa.

5 tips merencanakan pendidikan anak

Setiap orang tua pasti ingin memberikan
yang terbaik bagi anak mereka, termasuk dalam hal pendidikan. Memaksimalkan minat dan bakat anak dengan pendidikan yang terbaik tentu adalah mimpi orang tua.

Karena itu, biaya pendidikan anak adalah salah satu hal yang tak boleh lalai Anda siapkan. Apalagi diperkirakan biaya pendidikan naik sebesar 20% setiap tahunnya, jauh lebih besar dari perubahan inflasi serta kenaikan gaji!


Dengan kenaikan tersebut, cara terbaik untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah melalui investasi. Lima tips berikut semoga bisa membantu Anda:
1. Siapkan sejak dini
Investasi membutuhkan waktu untuk berkembang. Biaya pendidikan biasanya merupakan target jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk tercapai. Karena itu, semakin cepat Anda mulai menyisihkan uang dan berinvestasi, semakin baik.
Rencanakan tingkat pendidikan anak Anda

2. Rencanakan pendidikan anak Anda,
misalnya jenis sekolah yang Anda inginkan (sekolah negeri, swasta, atau di luar negeri), jenis pendidikan sesuai minat dan bakat anak Anda (sekolah seni, atau kedokteran, dll). Setelah itu, gunakan kalkulator biaya pendidikan anak yang bisa Anda dapatkan di internet untuk menghitung

3. perkiraan biaya pendidikan di masa depan.
Hitung jumlah investasi yang perlu Anda lakukan
Setelah mendapatkan target biaya pendidikan, Anda bisa menghitung jumlah investasi yang perlu Anda lakukan untuk mencapai target tersebut. Jumlah investasi ini dipengaruhi juga oleh jenis investasi yang Anda lakukan, misalnya tabungan pendidikan, reksadana, dll.

4. Pertimbangkan Perlunya Asuransi Jiwa
Anda pun harus memikirkan kemungkinan terburuk. Apa yang akan terjadi kalau Anda atau pasangan Anda sebagai pencari nafkah keluarga tak mampu lagi membiayai keluarga, misalnya karena sakit atau meninggal dunia? Siapkan perlindungan bagi anak Anda, jadi ketika hal terburuk terjadi, anak Anda masih bisa hidup dengan layak dan mendapatkan pendidikan yang terbaik.

5. Jangan Ragu Bertanya
Pengetahuan mengenai perencanaan keuangan bisa Anda dapatkan dari buku, internet, berita keuangan, ataupun bertanya pada keluarga atau sahabat yang pernah/sedang berinvestasi. Kalau perlu, Anda bisa juga berkonsultasi pada perencana keuangan untuk membuat rencana dana pendidikan yang terbaik bagi anak Anda. Setelah memiliki rencana yang baik untuk persiapan dana pendidikan, yang Anda perlukan selanjutnya adalah kedisiplinan untuk menjalankan rencana tersebut. Evaluasi kembali rencana Anda dalam periode tertentu, misalnya setiap setahun sekali, untuk menyesuaikannya dengan kondisi ekonomi, kondisi keuangan Anda, dll. Semua demi memberikan yang terbaik untuk anak Anda!


Asuransi Kesehatan Individu Dan Ketentuannya

asuransi kesehatan
Asuransi Kesehatan Individu Dan Ketentuannya - Kesadaran masyarakat Indonesia akan manfaat Asuransi bagi kehidupan semakin meningkat. Salah satu produk asuransi yang banyak diminati adalah Asuransi Kesehatan.  Asuransi Kesehatan dapat dimiliki secara individu maupun kelompok.

Asuransi Kesehatan Individu adalah Jenis Asuransi yang dibeli secara perseorangan, bukan diberikan oleh perusahaan pemberi kerja. Sedangkan Asuransi Kesehatan Kelompok adalah asuransi yang diberikan oleh pemberi kerja / perusahaan kepada karyawannya sebagai salah satu fasilitas.

Akan tetapi ada kalanya pengajuan untuk kepemilikan asuransi kesehatan individu ini ditolak oleh perusahaan asuransi. Kesal? Yah itulah mungkin yang akan kita rasakan saat menerima penolakan, padahal kita sudah memiliki harapan yang tinggi untuk bisa memiliki produk asuransi terbaik tersebut. Berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang menjadi ketentuan perusahaan asuransi yang membuat aplikasi kita ditolak.

Pada saat melakukan registrasi untuk Asuransi Kesehatan Individu, umumnya perusahaan asuransi menggunakan proses yang disebut dengan underwriting, underwriting digunakan untuk mengetahui usia, jenis kelamin dan riwayat kesehatan calon tertanggung. Informasi ini digunakan sebagai dasar untuk memutuskan apakah akan menerima aplikasi calon tertanggung ataukah tidak, dan  untuk menentukan berapa besarnya premi yang akan dikenakan.

Panduan underwriting tiap perusahaan asuransi berbeda-beda dan tidak dipublikasikan kepada umum, akan tetapi pada umumnya ketentuan tersebut menyangkut :

1.Tinggi dan berat badan standar calon tertanggung, pengukurannya disebut dengan Body Mass Index, apabila BMI berada diatas 39 maka perusahaan asuransi akan menolak aplikasi anda. Bila BMI anda 30 -39 aplikasi kemungkina akan diterima akan tetapi dengan premi yang lebih tinggi.

2.Kondisi Kesehatan, ada beberapa kondisi kesehatan calon tertanggung yang membuat aplikasi langsung ditolak yaitu memiliki masalah kesehatan yang belum diperiksa oleh dokter, , masalah kesehatan yang tidak dapat dijelaskan secara medis, masih berada dalam perawatan, penyakit kronis tertentu seperti AIDS, gangguan mental parah, penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes dll

3.Kondisi Kesehatan dan Gaya hidup/pekerjaan yang dapat menyebabkan asuransi ditolak, dibatasi lingkupnya, atau dikenai premi tambahan, misalnya: masalah kesehatan masa lalu yang telah sembuh atau tidak menimbulkan gejala lagi (misalnya stroke setelah 10 tahun yang tidak menimbulkan kekambuhan), alergi, infeksi telinga yang terkontrol, cedera otot, migrain, depresi, maupun pekerjaan yang beresiko tinggi misalnya sebagai penyelam/penerjun payung.

Semoga dari uraian informasi asuransi diatas kita akan semakin mengenal ASURANSI KESEHATAN INDIVIDU dan ketentuan yang berlaku di perusahaan asuransi.

Top